Kamis, 24 Februari 2011

Bubur Sumsum Gula Aren

Kejadian ini terjadi tepat dua minggu setelah aku melahirkan (akhir November 2010) dan harus mulai masuk kuliah. Aku belum boleh naik kendaraan pribadi, bolehnya dianter atau naik angkot, karena proses melahirkannya tidak normal. Aku naik angkot, karena tidak ada yang nganter. Awalnya adalah suatu penyiksaan, karena disamping hari sangat terik, perutku masih terasa cenat cenut (SM#SH banget deh), namun aku mencoba me-reappraisal kondisi tersebut, supaya emosiku tetap baik.

Belum juga berhasil, naiklah dua orang ibu-ibu, dengan logat aneh (karena aku gak ngerti bahasanya) dan suara mereka keras sekali, ngobrol dengan santainya. Polusi untuk telingaku, sudah keras, gak tahu maknanya lagi. Aduh... aku mulai jengkel.. (gak lucu soalnya).

Bla... bla... bli... blu... (bahasa jawanya 'entek amek, kurang golek', maksudnya kalau topik pembicaraan habis, ya tidak ada istilah kurang bahan untuk dibicarakan). Berlanjut dan berlanjut, keras, ketawa ngakak, dan paling menjengkelkan adalah aku nggak mudeng bahasanya... (aku berpikir untuk mempelajari bahasa daerah lain supaya bisa membaca situasi).

Sampai akhirnya...ada ringtone (ponsel juadul, saking luamanya) berbunyi, dan bisa ditebak..volumenya disetel paling keras, padahal hanya SMS. Salah satu ibu bingung mencari ponselnya. Begitu tergenggam ponsel itu, dipejetlah tombol pembuka SMS, tetapi SMS itu tidak dengan mudah bisa dibaca. Ibu itu perlu mengangkat ponselnya jauh-jauh dari matanya, dan mulai ngomong dengan bahasa normal, "Huh! Dasar mata tua, udah gak kelihatan nih...!" dijauhkan lagi dan lagi, tetap aja gak kelihatan. Kulirik, dengan maksud mengetes mataku, apakah tulisannya terbaca olehku, dan ternyata layarnya sangat buram dan sudah lethek. Pantes aja gak kelihatan.

Usaha keras itu berlanjut, lagi...lagi... dan lagi, tapi tetap tidak membuahkan hasil. Tak terduga si Ibu ngomong padaku, "Neng tolong bacain dong!" dan menyerahkan ponselnya padaku. Aku sontak terkejut menerima tugas mendadak, lalu mencoba membaca, Si Ibu sudah sangat antusias ingin tahu, "Apa isinya, apa isinya?". Aku sepersekian detik tertegun, jengkel campur geli...lalu sedikit lirih kusuarakan, SMS itu hanya berbunyi, "Bubur sumsum gula aren... Assalamu'alaikum my pren". Dengan tersipu-sipu malu si Ibu bertanya lagi (tapi ini dengan suara pelan), "Dari siapa neng?" dan akupun harus membacakan nama pengirimnya... nasib-nasib, tapi ajaibnya cenat-cenut diperutku hilang, berganti rasa geli melihat tingkah polah mereka yang malu-malu gimana gitu...

Selasa, 22 Februari 2011

Ngomong Inggris gak harus gaya British...

on Saturday, January 30, 2010 at 3:48pm
Banyak orang, terutama remaja suka banget ke-Inggris-Inggrisan. Coba tengok, jika ada yang dialeknya medhok seringkali jadi bahan tertawaan. Cerita ini kisah nyata, yang baca semoga mendapat inspirasi.

Suatu hari di sebuah gedung di daerah Kuningan Jakarta, saat Tes IELTS diselenggarakan. Tes itu terdiri dari empat subtes yaitu Listening, Reading, Writing dan Speaking. Peserta tes terbagi dalam 10 kelas, per kelas maksimal 20 orang. Alkisah tes Listening akan diselenggarakan, dan sebelumnya dilakukan check sound... (kayak main band aja ya).

Classroom 1, dicoba..
Si Bule (yang ngetes) bertanya, "too quiet?", semua peserta mengangguk
Si Bule membuka pintu dan teriak "Louder.....please"
suara mulai membesar, tapi masih belum memenuhi keinginan
Si bule teriak lagi "Louder, Louder", tetapi tidak ada reaksi, si bule keluar, lalu ketika masuk bilang bahwa di Classroom 2 tidak kedengaran dan teknisi sedang mengurusnya, kami harus bersabar. Teknisi utama diganti pegawai gedung tersebut.

Tes Sound lagi, mulai...
suara di classroom 1 malah semakin kecil bahkan tidak terdengar.
Si Bule geleng-geleng, lalu teriak "Louder, Louder!!!!"
apa yang terjadi? bukan suara yang membesar malah terdengar suara keras dan sangat medhok, SUPER MEDHOK bahkan, yaitu :
"Ai don kenow ser weris de batten to toch ap or don!" atau "I dont know Sir, where is the button to touch, Up or Down!" keras sekali
sontak semua tertawa, termasuk si Bule. Meski dia nyengir-nyengir, si Bule keluar ruangan untuk membereskan...


So... gak usah takut ngomong inggris atau dialek inggrisnya medhok, juga gak usah takut Grammar-nya jelek, yang penting kan bulenya paham.. jadi pakailah prinsip "ENGLISH SALAH PAHAM", alias "ngomong Inggrisnya boleh SALAH , yang penting bulenya PAHAM" he he he......

Bahasa Jakarta

on Friday, June 18, 2010 at 6:21
Kisah ini terjadi ketika kami berada di Jakarta, seminggu yang lalu. Begitu sampai di Jakarta, Dipta cukup terheran-heran melihat orang jakarta ngomong. Dia memperhatikan gaya bicara orang-orang di sana, dari anak kecil sampai orang dewasa. Karena tipikalnya yang pendiam, Dipta cukup menjadi pengamat, belum ikut nimbrung ngomong.

Dipta pun meminta jalan-jalan, dan kami pergi ke Cibubur Junction, sebuah mal yang cukup besar dan tentu saja berbeda penampakannya dengan mal di Semarang. Yang kami tuju satu, yaitu arena bermain dan toko buku. Begitu sampai di lantai 2, bapaknya Dipta bertanya pada satpam, dimana arena bermain, kemudian satpam menjelaskan. Lalu kami mulai berjalan, tiba-tiba...

Dipta menghentikan langkah kami dan bertanya, "Mama sama Bapak itu sudah bisa Bahasa Jakarta to...?". Kami cukup kaget dengan pertanyaan itu, dan pengen tersenyum. Lalu bapaknya bertanya "emang beda..?", dia jawab "iya beda...". oh... karena dialeknya beda, maka dia berkesimpulan ada bahasa Jakarta... ha ha ha... lumayan analisisnya

Waktu pun berlalu, seiiring kami muter-muter. Tiba di counter mainan, Dia mulai merajuk, dan kami tidak memberikan apa yang dia minta. Eh dia mulai menjerit dan menangis... aku berpikir cepat bagaimana menghentikannya, dan aku bilang... "Eh, kalau Dipta belum bisa bahasa Jakarta, jangan teriak-teriak di sini dong, kan malu...!" ajaib, mendengar itu dia langsung diem... nggak nyangka ya..., meski aku nggak tahu apa yang ada di pikirannya, yang penting dia diam he he he

Kamis, 17 Februari 2011

Kulonuwun

Kulonuwun...

Membaca judul blog ini jangan mengernyitkan dahi ya, karena tidak ada yang aneh kok. Yang aneh cuma pemilik blognya aja. Blog ini dibuat sebagai usaha untuk meredakan kejenuhan, masing-masing orang pasti punya style sendiri, dan aku memilih untuk memandang hidup dari kaca mata lucu. Jadi jangan kaget kalau blog ini akan dipenuhi dengan kisah-kisah tentang sisi lucu sebuah kejadian, yang mungkin tidak terbaca sama orang lain. Ceritanya bisa jadi tidak fiktif tapi mohon jangan ada yang tersinggung. 

Selamat menikmati, semoga hari Anda tercerahkan!